The Megalithic Stones of Toraja

The funeral rituals of the highest cast in Tana Toraja, the so-called Tana' Bulaan take place in a ritual field Rante where stones are erected as a symbol of the nobility for the Rambu solo' Rapasan ritual, the highest traditional funerary ceremony. The erection of the stones in the Rante is part of the ancient Torajan belief Alukta or Aluk To Dolo (the belief of the ancestors). The Rapasan ceremony lasts for seven days and seven nights, and 12-24 waterbuffaloes are slaughtered in the central Rante.

The megalithic stones are long and ovally shaped, like menhirs, rather flat with a pointed and blunt end at one side terbentuk secara alami. These megalithic stones are hard to find, and if found, their shape is often hidden because they are partly covered with earth. Susah dicari dan bila didapat sukar untuk ditentukan bentuknya bagus atau tidak karena kadang2 hanya sedikit bagian batu itu yang menyembul di atas permukaan tanah.

Orang mangimbo atau doa2 yang dipimpin oleh Tominaa atau pendeta Alukta, sebelum mulai pengalian. Diharapkan natinya dapat batu yang besar dan bagus bentuknya yang dipercaya dapat pula memberi keberuntungan. Dikorbankan seekor babi setiap hari selama penggalian, kadang2 dibutuhkan waktu tiga sampai lima hari.

Sejak hari pertama menarik simbuang, maka dimulailah mangorbankan kerbau. Seekor kerbau dikorbankan setiap hari, kadang2 dibutuhkan waktu tiga hari sampai berminggu-mingggu untuk menarik batu simbuang ke Rante. Puluhan sdampai ratusan orang datang membantu, juga dari desa2 tetangga sebagai tanda solidarits & kegotong-royongan. Kerbau dipotong di tempat yang diperkirakan akan mereka capai saat istirahat & makan siang.

Ada seorang yang memberi aba2 sambil berdiri di atas batu yang ditarik. Kadang2 tali-temali tersebut dari bambu putus, sambil tali-temali yang baru dipasang banyak yang ma'badong yaitu tarian & nyanyian kedukaan mengelilingi batu tersebut dengan saling mengandengkan jari keliling. Mereka dapat berhenti & beristirahat beberapa hari untuk memulihkan tenaga atau oleh karena gangguan cuaca seperti hujan.

Sesampainya di Rante, ujung batu yang lebih besar ditanamkan di lubang yang telah digali kira2 se[ertiga dari panjang atau tingginya batu simbuang. Sedangkan dua pertiganya menjulang tegak dengan kokoh menghadapkan sisinya yang dianggap depannya ke arah yang baik. Semakin banyak kali upacara pemakaman Rapasan diadakan di Rante, semakin bertambah jumlah batu 2 simbuang yang didirikan. Batu simbuang digunakan juga sebagai tempat untuk menambatkan kerbau selama upacara Rambu Solo' berlangsung sampai pada hari pemotongan kerbau.

Masih ada juga bangsawan Tana' Bulaan pada waktu upacara Rambu Solo' Rapasan yang mendirikan batu simbuang di Rante sampai sekarang. Tetapi kebanyakan batu yang mereka gunakan adalah batu simbuang pahatan.

Di TTR hampir setip kampung memiliki Rante: Umumnya dalam satu areal Rante kita dapat antara 15-35 buah batu simbuang yang ukuran tinggi besarnya ---. Ada yang bentuknya lonjong pipih & ada juga yang besar bulat lonjong yang ujungnya mengecil agak lancip & tumpul. Ada yang berdiameter antara 15cm - 1m, dengan tinggi mulai dari permikaan tanah antara 1m-5m.

Simbuang2 yang berasal dari jenis batu karang, atau batu kapur (limestone) yang kebanyakan berbentuk pipis lonjong banyak kita dapati di daerah TTR bagian timur & selatan. Sedangkan simbuang2 yang berasal dari jenis batu basalt atau granit kebanyakan berbentuk lonjong banyak kita dapati di daerah bagian utara & barat Tana Toraja.

Tidak ada yang tahu secara pasti kenapa orang Toraja memulai mendirikan batu2 simbuang, tetapi ada yang memperkirakan sejak 300-350 tahun yang lalu seumur dengan kuburan batu pahat atau liang pa'. Ada juga yang memperkirakan sudah lebih dari ribuan tahun yang lalu.